M. Ridlwan Syarqawi Kyai Enterpreneur

  • Post category:ARTIKEL

penulis: M. Rifqi Rosyidi

Yi Wan secara nasab memang memiliki darah keturunan kyai enterpreneur. Bapaknya Syarqawi memiliki usaha penjagalan sapi. Karena dakwah dan memberi kajian itu kewajiban bukan mencari penghasilan. Maka menjadi pengusaha dalam bidang perjagalan adalah satu cara untuk mendapatkan penghasilan materi dalam rangka mememuhi hajat hidupnya dan menafkahi keluarganya sehingga bisa tetap konsentrasi ngulang ngaji dan berdakwah dengan tenang tanpa harus menjadikan tugas dakwah sebagai sumber utama penghidupan.

Demikian halnya dengan Yi Wan, seorang kyai yang juga enterpreneur mengikuti jejak orang tuanya menggeluti usaha jagal dan perkulitan. Dakwah adalah tugas utamanya meskipun tidak menghasilkan uang tetapi usahanya di bidang perkulitan dan perjagalan dapat dianggap sebagai kerja sampingan yang menghasilkan uang, di mana sebagian hasilnya digunakan untuk membantu operasional kegiatan dakwahnya dan juga mencukupi kebutuhan hidup dan keluarganya.

Yi Wan adalah potret ulama dan penggiat dakwah Islam pada masa lalu yang tidak mengenal industrialisasi dakwah tetapi mereka memiliki tradisi enterpreneurship dalam membangun kemandirian ekonomi yang menopang kegiatan dakwahnya. Industrialisasi dakwah sejatinya telah merusak spiritualitas pelaku dakwah dan menjadikannya sebagai seorang kapitalis. Dan fenomena yang berkembang memang menunjukkan kebenaran kapitalisasi dakwah ini karena saat ini ketika suatu komunitas ingin menghadirkan beberapa ustaz tertentu ke daerahnya maka akan melalui birokrasi protokoler manajemen yang rumit, belum lagi harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk akomodasi dan transportasi.

Yi Wan ketika ngaji setiap malam sabtu dan malam selasa memang menyediakan “blek” bekas tempat minyak goreng curah untuk infaq para jamaah yang dipasang diujung jalan tetapi yang saya ketahui beliau tidak pernah mengambil sekedar untuk jajan, tetapi infaq tersebut dimanfaatkan untuk operasional pengajian: beli lampu, bayar listrik, tambahan modal untuk beli amplifier, mic dan corong.
Kemandirian ekonomi inilah yang patut dicontoh oleh pelaku dakwah sekarang sehingga tidak membebani jamaahnya secara finansial.

Leave a Reply